Selasa, 16 Juni 2026

Rindu Yang Tak Pernah Usai Kepada Ayah dan Ibuku

 

Ada rindu yang tak mampu diucapkan oleh kata-kata.
Ia tinggal dalam dada, tumbuh diam-diam, lalu menjelma menjadi sesak setiap kali kenangan datang tanpa permisi.

Ayah…
Ibu…

Sejak kalian pergi, rumah tak lagi sama.
Dinding masih berdiri, pintu masih terbuka, jendela masih menghadap langit yang sama—
namun hangatnya telah hilang.

Aku rindu suara langkah kalian.
Rindu panggilan sederhana yang dulu sering kuabaikan.
Rindu nasihat yang dahulu terasa panjang,
namun kini justru menjadi kalimat yang paling ingin kudengar sekali lagi.

Dulu aku berpikir kalian akan selalu ada.
Bahwa aku masih punya banyak waktu untuk membalas lelah kalian.
Masih ada hari esok untuk membuat kalian bangga.
Masih ada kesempatan untuk berkata,
“Ayah, Ibu… terima kasih.”

Ternyata waktu tidak pernah berjanji.

Kini aku mengerti,
kehilangan yang paling sunyi adalah ketika ingin pulang,
tetapi orang yang paling kita sebut rumah
sudah lebih dahulu pulang kepada Tuhan.

Sering aku tersenyum di hadapan dunia,
namun dalam sepi, aku kembali menjadi anak kecil
yang hanya ingin memeluk ayahnya
dan bersandar di pangkuan ibunya.

Aku ingin bercerita tentang hidupku sekarang.
Tentang perjuanganku.
Tentang lelah yang kupendam.
Tentang keberhasilan kecil yang sangat ingin kuperlihatkan kepada kalian.

“Ayah, lihatlah… aku berusaha menjadi kuat seperti dirimu.”
“Ibu, lihatlah… aku berusaha setegar doa-doamu.”

Tapi yang menjawab hanya hening.

Meski begitu, aku tahu…
cinta kalian tidak ikut terkubur bersama tanah.
Ia hidup dalam doa-doa yang kalian ajarkan.
Dalam adab yang kalian tanamkan.
Dalam setiap langkah yang berusaha kujaga agar tetap lurus.

Aku percaya,
orang tua yang baik tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka hidup di hati anak-anaknya.
Menjadi cahaya ketika gelap.
Menjadi arah ketika jalan terasa kabur.

Ayah… Ibu…
Jika rindu ini bisa terbang,
akan kukirim ia ke langit setiap malam
bersama doa yang tak pernah putus.

Tunggulah aku di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga ketika waktuku tiba,
aku datang bukan sebagai anak yang gagal menjaga amanah kalian,
melainkan sebagai anak
yang terus berusaha menjadi amal jariyah terindah bagi kedua orang tuanya.

Sampai saat itu tiba,
izinkan aku merindukan kalian dalam sujud,
menyebut nama kalian dalam doa,
dan menghadiahkan Al-Fatihah
dengan air mata yang tak selalu terlihat.

Sebab sejauh apa pun maut memisahkan,
cinta seorang anak kepada ayah dan ibunya
tak akan pernah mati.

Rindu ini abadi.
Bukan karena kalian belum kulupakan—
melainkan karena kalian
memang tak mungkin kulupakan.

Al-Fatihah untuk Ayah dan Ibu.
Semoga Allah mempertemukan kita kembali
di surga-Nya.


Anakmu : Muhammad Yassir Rangkuti, A.Md., S.H.

Jumat, 26 April 2024

SUNAN KALIJAGA (SYEIKH RADEN MAS SYAHID)

 

 Keberadaan agama Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kebaikan dan ajaran sembilan tokoh pilihan yang dikenal dengan sebutan Walisongo. Mereka mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat Indonesia di berbagai daerah melalui berbagai cara. Salah satu anggota Walisongo yang berjasa menyebarkan ajaran Islam tersebut adalah Sunan Kalijaga. Sampai saat ini, beliau masih dihormati oleh umat Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.

Sepanjang hidupnya, Sunan Kalijaga pernah berperan di pemerintahan dan juga kerajaan dan menjadi sosok yang disegani oleh masyarakat muslim maupun non muslim. Sunan Kalijaga terkenal dengan cara berdakwah yang menghormati tradisi dan budaya masyarakat Jawa.

SUNAN DRAJAT (SYEIKH RADEN QOSIM)

 

 


Raden Qasim atau Sunan Drajat adalah salah seorang anggota Wali Songo, majelis penyebar agama Islam dalam sejarah Jawa pada abad ke-14 Masehi. Putra bungsu Sunan Ampel ini melakukan dakwah Islam dengan prinsip Pepali Pitu atau 7 Dasar Ajaran, selain melalui seni dan budaya.

Sunan Drajat lahir di Ampeldenta, Surabaya, pada 1470 M dengan nama Raden Qasim sebagai putra termuda Sunan Ampel dengan Nyi Ageng Manila. Ia adalah adik dari Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang.

Selain Raden Qasim, Sunan Drajat memiliki banyak nama atau julukan lainnya, seperti Masaikh Munat, Raden Syarifuddin, Maulana Hasyim, Pangeran Kadrajat, atau Sunan Mayang Madu.

Raden Qasim memperoleh ilmu keislaman langsung dari ayahnya, Sunan Ampel, yang memimpin pondok pesantren Ampeldenta, Surabaya. Setelah beranjak remaja, Raden Qasim merantau ke Cirebon untuk berguru kepada Sunan Gunung Jati.

Di Cirebon, Raden Qasim menikahi putri Sunan Gunung Jati yang bernama Dewi Sufiyah. Hingga kemudian, Raden Qasim kembali ke Ampeldenta bersama istrinya. Sesampainya di Ampeldenta, Sunan Ampel meminta Raden Qasim untuk berdakwah di daerah Gresik.

Raden Qasim menuruti perintah ayahnya, meneruskan perjalanan menuju Gresik. Ia menetap di Desa Banjarwati dan disambut baik oleh sesepuh kampung yang bernama Kiai Mayang Madu dan Mbah Banjar.

Di Desa Banjarwati, Raden Qasim dinikahkan dengan putri Kiai Mayang Madu yang bernama Nyai Kemuning.

Di wilayah yang bernama Jelag, daerah yang memiliki medan lebih tinggi dari tempat lainnya di Desa Banjarwati, Raden Qasim mendirikan surau dan mengajar penduduk setempat. Kendati tergolong bangsawan, ia amat dekat dengan rakyat. Jiwa sosialnya tinggi serta mengutamakan kesejahteraan penduduk. Islam yang didakwahkan Raden Qasim menekankan pada etos kerja keras dan empati berupa kedermawanan, sikap tenggang rasa, saling peduli, pengentasan kemiskinan, gotong royong, dan solidaritas sosial.

Ketika turun langsung ke masyarakat, Raden Qasim mengajarkan banyak hal kepada warga, dari cara membangun rumah, membuat alat-alat untuk memikul orang seperti tandu atau joli, dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, Raden Qasim dijadikan imam pelindung oleh penduduk di pedukuhan Drajat. Sejak itulah, Raden Qasim mulai dikenal dengan nama Sunan Drajat.

Jika Sunan Ampel berdakwah dengan ajaran Moh Limo, Sunan Drajat berdakwah dengan Pepali Pitu atau 7 Dasar Ajaran. Berikut ini Pepali Pitu sebagai pijakan kehidupan sehari-hari yang disampaikan oleh Sunan Drajat:

  • Memangun resep tyasing sasama (Membuat senang hati orang lain).
  • Jroning suka kudu eling lan waspada (Dalam suasana gembira, hendaknya tetap ingat Tuhan  dan selalu waspada).
  • Laksitaning subrata tan nyipa marang pringga bayaning lampah (Dalam mencapai cita-cita luhur, jangan menghiraukan halangan dan rintangan). 
  • Meper hardaning pancadriya (Senantiasa berjuang untuk menekan hawa nafsu duniawi).
  • Heneng-Hening-Henung (Dalam diam akan dicapai keheningan, dalam hening akan dicapai jalan kebebasan mulia).
  • Mulya guna panca waktu (Pencapaian kemuliaan lahir batin dicapai dengan menjalani salat lima waktu). 
  • Menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan (Berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang lapar. Berikan pakaian kepada orang tak berpakaian. Berikan tempat berteduh kepada orang kehujanan).

Sebagaimana ulama Wali Songo lainnya yang berdakwah lewat seni dan budaya, Sunan Drajat juga mahir menggubah sejumlah tembang. Tembang terkenal yang digubahnya adalah tembang tengahan macapat pangkur untuk menyampaikan ajaran falsafah kehidupan kepada masyarakat.

Sunan Drajat juga pandai mendalang serta sesekali mementaskan pertunjukan wayang untuk sarana dakwahnya. Peninggalan Sunan Drajat yang masih disimpan hingga sekarang adalah seperangkat gamelan yang disebut "Singo Mengkok" serta benda-benda seni lainnya. Di masa tuanya, Sunan Drajat pindah ke kawasan Dalem Wungkur, arah selatan dari Desa Drajat. Ia menghabiskan masa tuanya dengan berdakwah di sana. Pada 1522 M, Raden Qasim atau Sunan Drajat tutup usia. Makamnya terletak di Desa Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.


 

SUNAN GIRI (SYEIKH RADEN PAKU)

 

Sunan Giri, nama aslinya Raden Paku, lahir 1442 M. Ayahnya Bernama Syekh Maulana Ishak, putra Syekh Jumadil Kubro.

Silsilahnya tersambung dengan Rasulullah Saw melalui jalur Husen putra Syaidah Fatimah r.a. Sedangkan ibunya, Dewi Sekardadu anak Raja Blambangan, Bhre Wirahbumi putra Maharaja Hayam Wuruk (penguasa Majapahit 1350-1389 M).

Masa kecilnya diasuh oleh saudagar kaya raya di Gresik, Nyi Ageng Pinatih. Pengasuhan Nyi Ageng Pinatih berawal dari seorang awak kapal yang menemukan peti tersangkut di kapal milik Nyi Ageng Pinatih yang sedang berlayar ke Bali. Bayi tersebut diserahkan kepada pemilik kapal. Kemudian bayi mungil diberikan nama Jaka Samudra dan dijadikan anak angkat.

Sewaktu Jaka Samudra masih dalam kandungan ibunya, Syekh Maulana Ishak diusir oleh mertuanya, Bhre Wirahbumi lantaran ia tidak mau menerima ajakan Syekh Maulana Ishak untuk masuk agama Islam. Setelah Syekh Maulana Ishak pulang ke Pasai Aceh, Dewi Sekardadu mengalami sakit hingga wafat setelah melahirkan putranya.

Selang beberapa hari, terjadilah wabah penyakit di Gresik, Bhre Wirahbumi memerintahkan agar sang bayi, cucunya sendiri dibuang ke laut karena dianggap mendatangkan bencana dan akhirnya ditemukan oleh Nyi Ageng Pinatih.

Ketika berusia 7 tahun , Jaka Samudra dititipkan ke Pesantren Ampeldenta. Nama Jaka Samudra diganti menjadi Raden Paku oleh Sunan Ampel. Ia belajar berbagai disiplin ilmu agama, Al Quran, Hadits, Fikih dan Tasawuf di bawah asuhan Sunan Ampel. Karena kecerdasannya menyerap ilmu agama, Raden Paku diberikan gelar Maulana Ainul Yaqin.

Setelah beberapa tahun mengenyam Pendidikan di Pesantren, Raden Paku berangkat ke Tanah Suci bersama Raden Mahdum Ibrahim (putra Sunan Ampel). Saat melewati Aceh, mereka berdua menemui Syekh Maulana Ishak kemudian disarankan untuk memperdalam ilmu agama terlebih dahulu.

Setelah beberapa tahun belajar mereka berdua disarankan kembali ke Jawa untuk mengabdi ke masyarakat. Kepulangannya ke Gresik bersama dua orang abdi, Syekh Koja dan Syekh Grigis sambil membawa pesan Syekh Maulana Ishak agar kelak Raden Paku mencari lokasi yang jenis tanahnya sama dengan tanah yang diberikan sang ayah.

Ia menikah dengan Mas Murtosiyah, putri Sunan Ampel sehingga hubungannya dengan sang guru tidak sebatas santri  dan kiai melainkan hubungan mantu-mertua. Sebelum membangun pesantren, Sunan Giri melakukan usaha usaha dagang milik ibu angkatnya Nyi Ageng Pinatih. Ekspedisi perdagangan ia lakukan tidak hanya di wilayah Jawa melainkan ke daerah daerah lain seperti Makassar. Ia melangsungkan dakwah Islam sambil berdagang sampai akhirnya memutuskan untuk mendirikan pesantren.

Pendirian pesantren Giri Kedhaton bermula dari munajatnya selama 40 hari hingga teringat pesan ayahnya ketika bertemu di Pasai Aceh. Akhirnya menemukan jenis tanah yang sama di sebuah perbukitan pada tahun 1480 M yang diberikan nama Giri, dalam bahasa Sansekerta berarti gunung. Seiring perkembangan Islam, Giri Kedathon tumbuh sebagai kota dan pusat pemerintahan sekaligus pusat penyebaran Islam.

Makam Sunan Giri terletak di sebuah bukit di dusun Kedhaton, desa Giri Gajah Kabupaten Gresik. Di pintu gapura tertulis 1505 M, tahun Pembangunan gapura makam. Perjuangan Sunan Giri dalam dakwahnya dilanjutkan Pangeran Zainal Abidin atau Sunan Dalem bergelar Sunan Giri II. Puncak kejayaan Giri saat Pangeran Pratikha yang dikenal dengan nama Sunan Prapen naik tahta memimpin Giri. Dia melanjutkan dakwah Islam ke berbagai daerah Kutai, Goa, Sumbawa, Bima, Lombok bahkan ke Maluku.

Sunan Prapen, cucu Sunan Giri melanjutkan perjuangan kakeknya menyebarkan Islam ke wilayah Lombok pada abad ke 16. Sunan Giri wafat pada awal abad XVI, dimakamkan di sebuah bukit di dusun Kedhaton, desa Giri Gajah Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik.


 

 

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons