Ada rindu yang tak mampu diucapkan oleh kata-kata.
Ia tinggal dalam dada, tumbuh diam-diam, lalu menjelma menjadi sesak setiap kali kenangan datang tanpa permisi.
Ayah…
Ibu…
Sejak kalian pergi, rumah tak lagi sama.
Dinding masih berdiri, pintu masih terbuka, jendela masih menghadap langit yang sama—
namun hangatnya telah hilang.
Aku rindu suara langkah kalian.
Rindu panggilan sederhana yang dulu sering kuabaikan.
Rindu nasihat yang dahulu terasa panjang,
namun kini justru menjadi kalimat yang paling ingin kudengar sekali lagi.
Dulu aku berpikir kalian akan selalu ada.
Bahwa aku masih punya banyak waktu untuk membalas lelah kalian.
Masih ada hari esok untuk membuat kalian bangga.
Masih ada kesempatan untuk berkata,
“Ayah, Ibu… terima kasih.”
Ternyata waktu tidak pernah berjanji.
Kini aku mengerti,
kehilangan yang paling sunyi adalah ketika ingin pulang,
tetapi orang yang paling kita sebut rumah
sudah lebih dahulu pulang kepada Tuhan.
Sering aku tersenyum di hadapan dunia,
namun dalam sepi, aku kembali menjadi anak kecil
yang hanya ingin memeluk ayahnya
dan bersandar di pangkuan ibunya.
Aku ingin bercerita tentang hidupku sekarang.
Tentang perjuanganku.
Tentang lelah yang kupendam.
Tentang keberhasilan kecil yang sangat ingin kuperlihatkan kepada kalian.
“Ayah, lihatlah… aku berusaha menjadi kuat seperti dirimu.”
“Ibu, lihatlah… aku berusaha setegar doa-doamu.”
Tapi yang menjawab hanya hening.
Meski begitu, aku tahu…
cinta kalian tidak ikut terkubur bersama tanah.
Ia hidup dalam doa-doa yang kalian ajarkan.
Dalam adab yang kalian tanamkan.
Dalam setiap langkah yang berusaha kujaga agar tetap lurus.
Aku percaya,
orang tua yang baik tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka hidup di hati anak-anaknya.
Menjadi cahaya ketika gelap.
Menjadi arah ketika jalan terasa kabur.
Ayah… Ibu…
Jika rindu ini bisa terbang,
akan kukirim ia ke langit setiap malam
bersama doa yang tak pernah putus.
Tunggulah aku di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga ketika waktuku tiba,
aku datang bukan sebagai anak yang gagal menjaga amanah kalian,
melainkan sebagai anak
yang terus berusaha menjadi amal jariyah terindah bagi kedua orang tuanya.
Sampai saat itu tiba,
izinkan aku merindukan kalian dalam sujud,
menyebut nama kalian dalam doa,
dan menghadiahkan Al-Fatihah
dengan air mata yang tak selalu terlihat.
Sebab sejauh apa pun maut memisahkan,
cinta seorang anak kepada ayah dan ibunya
tak akan pernah mati.
Rindu ini abadi.
Bukan karena kalian belum kulupakan—
melainkan karena kalian
memang tak mungkin kulupakan.
Al-Fatihah untuk Ayah dan Ibu.
Semoga Allah mempertemukan kita kembali
di surga-Nya.
Anakmu : Muhammad Yassir Rangkuti, A.Md., S.H.




