Perlu dijelaskan lebih dahulu, bahwa membenarkan dalam pengertian iman seperti yang tersebut di atas ( baca pengertian iman ), ialah suatu pengakuan yang didasarkan kepada makrifat. Karena itu perlulah kiranya diketahui dahulu akan arti dan kedudukan makrifat itu.
Makrifat ialah: "Mengenal Allah
Tuhan seru sekalian alam" untuk mengenal Allah, ialah dengan memperhatikan
segala makhluk-Nya dan memperhatikan segala jenis kejadian dalam alam ini.
Sesungguhnya segala yang diciptakan Allah, semuanya menunjukkan akan
"adanya Allah". memakrifati Allah, maka Dia telah menganugerahkan
akal dan pikiran. Akal dan pikiran itu adalah alat yang penting untuk
memakrifati Allah, Zat yang Maha Suci, Zat yang tiada bersekutu dan tiada yang
serupa. Dengan memakrifati-Nya tumbuhlah keimanan dan keislaman. Makrifat
itulah menumbuhkan cinta, takut dan harap. Menumbuhkan khudu' dan
khusyuk didalam jiwa manusia. Karena itulah makrifat dijadikan sebagai pangkal
kewajiban seperti yang ditetapkan oleh para ahli ilmu Agama. Semuanya
menetapkan: "Awwaluddini, ma'rifatullah permulaan agama,
ialah mengenal Allah". Dari kesimpulan inilah pengarang az-Zubad merangkumkan
syairnya yang berbunyi:
Permulaan kewajiban manusia, ialah mengenal akan Allah dengan keyakinan yang
teguh.
Dalam pada itu, harus pula diketahui,
bahwa makrifat yang diwajibkan itu, ialah mengenali sifat-sifat-Nya dan
nama-nama-Nya yang dikenal dengan al Asmaul Husna (baca : al-Asmaul Husna nama-nama yangindah lagi baik). Adapun mengetahui hakikat Zat-Nya, tidak dibenarkan, sebab
akal pikiran tidak mampu mengetahui Zat Tuhan. Abul Baqa al-'Ukbary dalam Kulliyiat-nya
menulis: "ada dua martabat Islam: (l) di bawah iman, yaitu mengaku
(mengikrarkan) dengan lisan, walaupun hati tidak mengakuinya; dan (2) di atas
iman, yaitu mengaku dengan lidah mempercayai dengan hati, dan mengerjakan
dengan anggota".
Sebagian besar ulama Hanafiyah dan
ahli hadits menetapkan bahwa iman dan Islam hanya satu. Akan tetapi Abul Hasan
al-Asy'ari mengatakan: Iman dan Islam itu berlainan".
Abu Manshur al-Maturidi berpendapat,
bahwa: "Islam itu mengetahui dengan yakin akan adanya Allah, dengan tidak
meng-kaifiyat-kan-Nya dengan sesuatu kaifiyat, dengan tidak
menyerupakan-Nya dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya. Tempatnya yang tersebut
ini, ialah dalam hati. Iman ialah mempercayai (mengetahui) akan ketuhanan-Nya
dan tempatnya ialah di dalam dada (hati). Makrifat ialah mengetahui Allah dan
akan segala sifat-Nya. Tempatnya ialah di dalam lubuk hati (fuad).
Tauhid ialah mengetahui (meyakini) Allah dengan keesaan-Nya. Tempatnya ialah di
dalam lubuk hati dan itulah yang dinamakan rahasia (sir).
Inilah empat ikatan, yakni: lslam,
iman, makrifat, dan tauhid yang bukan satu dan bukan pula berlainan. Apabila
keempat-empatnya bersatu, maka tegaklah Agama.
Ada 4 tingkatan ilmu makrifat,
yaitu :
1. Ilmu Syariat (Syara’a) artinya
jalan, dapat dimaksudkan sebagai hukum, metode. Syariat ini tertuang didalam
hukum-hukum fikih yang harus dipahami dan dikerjakan sesuai dengan
aturan-aturan yang ada. Tingkatan kesadaran: ada milikku, ada milikmu.
2. Ilmu Tarekat (Thoraqo) artinya
jalan, perbedaannya dengan syara’a: kalau syara’a jalan di dalam kota, maka
thoraqo jalan ke luar kota yang lebih panjang. Oleh sebab itu, maka tarekat
disebut juga jalan untuk memahami hakekat. Orang yang menggunakan jalan ini
disebut penganut tarekat, yang dipimpin oleh seorang guru tarekat. Mereka yang
memasuki tarekat berkehendak untuk mendapatkan ridha Allah, dan disebut
al-muridin atau salik atau orang yang menuntut ilmu suluk. Banyak sekali
perkumpulan tarekat seperti Naqsabandiah, Qadiriah, Tijaniah, Sanusiah, dsb.
Pengikut tarekat melakukan wirid-wirid tertentu yang dibimbing oleh guru
tarekat. Tingkat kesadaran: milikku adalah milikmu dan milikmu adalah milikku.
3. Ilmu hakekat (Haqqo) artinya
kebenaran. Wujud dari kebenaran yang dapat dilihat adalah kejujuran, keadilan
cinta kasih. Pada tingkatan ini orang telah memahami makna ibadah yang
dilakukan, misalnya “sholat mencegah kemunkaran”, makna berzakat, makna
berpuasa, makna berhaji. Ilmu ini juga disebut ilmu batin. Kenapa pula ilmu ini
juga dikatakan ilmu batin? Ini kerana roh atau hati memang tidak dapat dilihat
oleh mata kepala. Ia adalah makhluk yang tersembunyi. Maka ilmu ini dinamakan
ilmu batin kerana ia membahaskan tentang hati dan sifat-sifatnya yang memang
tidak dapat dilihat dengan mata lahir tapi dapat dilihat oleh mata batin.
Tingkat kesadaran: tidak ada milikku, tidak ada milikmu.
4. Ilmu makrifat Asal
katanya arofa artinya tahu ; kenal pada Sang Pencipta. Batinnya sudah dekat
dengan Allah. Semua gerakannya lillahitaala, dan janji Allah untuk membantu
setiap aktivitas orang tersebut. Kata sebagian orang: “Ilmu ini sangat langka
dan sakral. Tak sembarang orang bisa meraihnya, kecuali para wali yang telah
sampai pada tingkatan ma’rifat.





