Raden
Qasim atau Sunan Drajat adalah salah seorang anggota Wali Songo, majelis
penyebar agama Islam dalam sejarah Jawa pada abad ke-14 Masehi. Putra bungsu
Sunan Ampel ini melakukan dakwah Islam dengan prinsip Pepali Pitu atau 7 Dasar
Ajaran, selain melalui seni dan budaya.
Sunan Drajat lahir di
Ampeldenta, Surabaya, pada 1470 M dengan nama Raden Qasim sebagai putra termuda
Sunan Ampel dengan Nyi Ageng Manila. Ia adalah adik dari Raden Maulana Makdum
Ibrahim alias Sunan Bonang.
Selain Raden Qasim, Sunan
Drajat memiliki banyak nama atau julukan lainnya, seperti Masaikh Munat, Raden
Syarifuddin, Maulana Hasyim, Pangeran Kadrajat, atau Sunan Mayang Madu.
Raden Qasim memperoleh ilmu
keislaman langsung dari ayahnya, Sunan Ampel, yang memimpin pondok pesantren
Ampeldenta, Surabaya. Setelah beranjak remaja, Raden Qasim merantau ke Cirebon
untuk berguru kepada Sunan Gunung Jati.
Di
Cirebon, Raden Qasim menikahi putri Sunan Gunung Jati yang bernama Dewi
Sufiyah. Hingga kemudian, Raden Qasim kembali ke Ampeldenta bersama istrinya.
Sesampainya di Ampeldenta, Sunan Ampel meminta Raden Qasim untuk berdakwah di
daerah Gresik.
Raden
Qasim menuruti perintah ayahnya, meneruskan perjalanan menuju Gresik. Ia
menetap di Desa Banjarwati dan disambut baik oleh sesepuh kampung yang bernama
Kiai Mayang Madu dan Mbah Banjar.
Di
Desa Banjarwati, Raden Qasim dinikahkan dengan putri Kiai Mayang Madu yang
bernama Nyai Kemuning.
Di
wilayah yang bernama Jelag, daerah yang memiliki medan lebih tinggi dari tempat
lainnya di Desa Banjarwati, Raden Qasim mendirikan surau dan mengajar penduduk
setempat. Kendati tergolong bangsawan, ia amat dekat dengan rakyat. Jiwa
sosialnya tinggi serta mengutamakan kesejahteraan penduduk. Islam yang
didakwahkan Raden Qasim menekankan pada etos kerja keras dan empati berupa
kedermawanan, sikap tenggang rasa, saling peduli, pengentasan kemiskinan,
gotong royong, dan solidaritas sosial.
Ketika
turun langsung ke masyarakat, Raden Qasim mengajarkan banyak hal kepada warga,
dari cara membangun rumah, membuat alat-alat untuk memikul orang seperti tandu
atau joli, dan lain sebagainya.
Pada
akhirnya, Raden Qasim dijadikan imam pelindung oleh penduduk di pedukuhan
Drajat. Sejak itulah, Raden Qasim mulai dikenal dengan nama Sunan Drajat.
Jika
Sunan Ampel berdakwah dengan ajaran Moh Limo, Sunan Drajat berdakwah dengan Pepali
Pitu atau 7 Dasar Ajaran. Berikut ini Pepali Pitu sebagai pijakan kehidupan
sehari-hari yang disampaikan oleh Sunan Drajat:
- Memangun
resep tyasing sasama (Membuat senang hati orang lain).
- Jroning
suka kudu eling lan waspada (Dalam suasana gembira, hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada).
- Laksitaning
subrata tan nyipa marang pringga bayaning lampah (Dalam mencapai cita-cita
luhur, jangan menghiraukan halangan dan rintangan).
- Meper
hardaning pancadriya (Senantiasa berjuang untuk menekan hawa nafsu duniawi).
- Heneng-Hening-Henung
(Dalam diam akan dicapai keheningan, dalam hening akan dicapai jalan kebebasan
mulia).
- Mulya
guna panca waktu (Pencapaian kemuliaan lahir batin dicapai dengan menjalani
salat lima waktu).
- Menehono
teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono
busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan
(Berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang lapar. Berikan
pakaian kepada orang tak berpakaian. Berikan tempat berteduh kepada orang
kehujanan).
Sebagaimana
ulama Wali Songo lainnya yang berdakwah lewat seni dan budaya, Sunan Drajat
juga mahir menggubah sejumlah tembang. Tembang terkenal yang digubahnya adalah
tembang tengahan macapat pangkur untuk menyampaikan ajaran falsafah kehidupan
kepada masyarakat.
Sunan
Drajat juga pandai mendalang serta sesekali mementaskan pertunjukan wayang
untuk sarana dakwahnya. Peninggalan Sunan Drajat yang masih disimpan hingga
sekarang adalah seperangkat gamelan yang disebut "Singo Mengkok"
serta benda-benda seni lainnya. Di masa tuanya, Sunan Drajat pindah ke kawasan
Dalem Wungkur, arah selatan dari Desa Drajat. Ia menghabiskan masa tuanya
dengan berdakwah di sana. Pada 1522 M, Raden Qasim atau Sunan Drajat tutup
usia. Makamnya terletak di Desa Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.